The grass is not greener

The grass is not greener on the other side. Sometimes, they just use filter.

#SabtuMenggambar is a collection of my drawing, mostly inspired by quote and Pinterest picture. Every saturday afternoon, I allocate my time to draw something that make me happy, hence the name #SabtuMenggambar or saturday drawing.

Advertisements

4 Lelaki

Cerpen ini pernah dimuat 8 tahun yang lalu di majalah sastra, Horison

_____________________

Jawa, 1972

Lelaki Keempat

Tiga makam berjejeran. Yang paling kanan terlihat baru. Tanah masih basah. Namun, itu tetap tidak menghentikan pikiran Toro untuk menghabisi nyawa Juki. Justru inilah saat yang dinanti. Tak perlu berlama-lama menunggu. Mumpung emak dan yang lainnya masih dalam keadaan berkabung, mereka pasti tidak akan memperhatikan apa yang dimakan Juki. Memperhatikan pun tak apa. Asal mereka tak tahu apa yang tercampur dengan makanan itu. Toro melihat nisan ayahnya lagi. Segeralah engkau menyusul ayah, Juk. Dan seringainya keluar.

***

Jawa, 1893

Lelaki Pertama

Revolusi industri yang terjadi di Negara Eropa telah merambah ke seluruh dunia. Begitu pula dengan Jawa. Kereta api telah digunakan. Memang kelihatannya enak sekali menaiki kereta itu. Bahkan menurut kabar, ada surat kabar di Semarang yang berubah nama menjadi De Locomotief karena adanya kereta api. Ah, peduli apa aku pada surat kabar. Baca tulis saja aku tak bisa.

Untungnya, tidak semua golongan berkesempatan mencicipi naik kereta api. Selain itu, kereta api ini tidak bisa beroperasi setiap saat dibutuhkan. Jika tidak, tak bisa kubayangkan bagaimana nasibku kelak. Siapa yang akan memberi makan anak-biniku? Ya, aku seorang kusir. Maka aku membutuhkan penumpang untuk dokar dan kudaku.

Aku menuntun kudaku untuk kuberi makan. Kulihat Nyai Suryati di kejauhan sedang berbicara dengan pemerah susu. Nyai adalah istri seorang pengusaha Belanda. Namun, Nyai sendiri adalah pribumi tulen. Berkat jasanyalah aku kini menjadi kusir yang bertugas mengantarkan barang hasil perusahaannya ke daerah sekitar. Jika tidak ada barang yang diantar, biasanya aku mengantarkan Nyai, Tuan atau anak mereka ke daerah sekitar atau ke sekolah.

Nyai dan keluarganyalah yang telah mengangkat aku dari seorang petani menjadi seorang kusir. Hinakah menjadi seorang petani hingga aku menggunakan kata mengangkat? Tidak, tentu saja tidak. Jujur, aku lebih senang mencangkul di sawah, berkicau bersama burung maupun menikmati teriknya matahari. Namun, aku sekarang tidak bisa melakukannya. Sawahku telah disewa secara paksa oleh pengusaha asing. Hanya ladang di belakang rumah yang tersisa. Itu pun ukurannya tidak seberapa. Itulah mengapa pekerjaan menjadi kusir aku katakan mengangkat dibandingkan sebagai petani.

Di perjalanan pulang, aku berpikir. Haruskah aku bersyukur tidak menjadi petani lagi? Dengan upah menjadi kusir lebih daripada hasil sewa sawah dan menjadi buruh pekerja, memang tak ada kata lain selain bersyukur. Namun haruskah aku bersyukur di atas penderitaan para petani? Para sahabat lamaku?

Hari sudah malam ketika aku sampai di rumah. Anak-biniku sudah tergeletak. Pulas sekali mereka tidur. Pasti mereka capek setelah menjadi buruh di perkebunan daerah sekitar. Aku tak ingin mengganggu mereka dalam satu-satunya ketenangan mereka. Aku tak ingin mereka terbangun. Seharian ini, pasti tak terhitung berapa cacian yang mereka terima dari pengawas kebun.

***

Jawa,1923

Lelaki Pertama

Badanku sudah sangat lemah. Mungkin tak lama lagi ajal akan menjemput. Aku berangkat ke ladang. Ya, ke ladang. Bukan ke perusahaan Nyai Suryati. Aku sudah menyerahkan pekerjaanku sebagai kusir kepada anak lelakiku satu-satunya. Sedang, dua anak gadisku yang lain sudah menikah dengan orang kampung sebelah. Meski begitu, hampir setiap hari mereka menjengukku dan biniku di rumah. Seperti pagi ini.

Di depanku mereka diam saja. Tersenyum seolah-olah pernikahan mereka bahagia. Namun di belakang sana, seperti yang sudah-sudah, kudengar mereka menceritakan perilaku menyebalkan suami mereka pada ibunya. Huh, dasar wanita. Meskipun kau mengeluh di depan, kau pun tetap tidak didengarkan. Apalagi kalau kau mengeluh di belakang. Atau mungkin mereka mengeluh di belakang karena yakin tidak akan didengar meski mereka ada di depan.

Bingung dengan pikiranku sendiri, aku segera mengenakan caping. Kulihat banyak luruhan daun di dekat selokan. Dengan enggan aku mengambil cangkul, niat hendak membereskan dedaunan itu. Tak dinyana, banyak ular keluar dari luruhan itu. Dulu waktu muda, tak perlu tiga menit aku sudah bisa memotong ular itu dengan cangkul. Namun sekarang…. Mungkinkah ini karma? Dan dunia berubah segelap-gelapnya.

***

Jawa, 1930

Lelaki Kedua

Mulai tahun 1908, banyak organisasi yang tumbuh subur di Indonesia. Mulanya hanya mencakup daerah, sekarang, dari kalangan mana pun boleh ikut. Mereka menggelorakan satu kata: kemerdekaan. Rupanya negeri ini sudah capek digerogoti oleh kaum kolonial itu. Tapi kenapa setelah beratus-ratus tahun digerogoti, orang-orang itu baru bisa bersatu?

Aku mengendarai kudaku dengan pelan. Kalau bukan karena perintah ayah, aku tak akan bekerja sebagai kusir di perkebunan. Nyai Suryati ini. Mungkin aku tetap akan menjadi buruh tani. Tanah ayah sudah lama disewa oleh para pengusaha asing. Aku belum pernah mencangkul di sawahku sendiri. Malahan aku mencangkul di tanah milik tetanggaku, yang sudah disewa oleh pengusaha asing. Tidak ada tanah di desa yang tidak di sewa. Alhasil, semua penduduk desa menjadi buruh tani, kecuali ayah dan aku, yang meneruskan pekerjaan ayah.

Anakku, Darmoko berlari menyusulku di belakang sambil meneriakkan namaku. Aku menghentikan. dokarku.

“Ada apa, Dar?” tanyaku. Darmoko lalu berdiri di samping dokarku. Aku tahu, dia ingin ikut denganku. Dapat kupastikan, dia akan menjadi kusir juga. Namun, dia pasti akan jadi kusir yang lebih baik dariku. Aku tahu itu karena berbeda denganku yang mendapat pekerjaan ini karena warisan dari ayah, Darmoko akan menjadi kusir karena dia suka menjadi kusir. Sejak kecil, dia sudah biasa membantu aku dan ayah memberi makan kuda, memandikannya, mencari rumput di sawah, membersihkan kandang. Sering kulihat ayah yang kaku bisa tertawa tergelak bersama Darmoko saat mereka memandikan kuda.

***

Jawa, 1972

Lelaki Ketiga

Sudah 27 tahun negeri ini merdeka. Namun, aku, sama seperti ayah dan kakekku, masih tetap menjadi kusir. Tak apalah, toh aku suka pekerjaan ini. Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat ayah dan kakek membersihkan kuda, kandang, memberi makan. Hal itu selalu menarik. Bersentuhan dengan Bento, si kuda, membuatku tak hentinya mengucapkan terima kasih. Kuda inilah, juga ayah dan kakeknya, yang telah membuat keluargaku hidup hingga hari ini.

Pagi-pagi kukendarai kuda menuju pasar. Di sana, seperti biasa banyak penumpang. Meskipun sudah ada beberapa angkutan umum, tapi untung masih ada beberapa penumpang yang lebih memilih menaiki dokarku.

Jujur saja, kalau bukan karena aku mencintai pekerjaan ini, aku tak akan ragu meninggalkannya. Istriku sering marah karena bau kotoran kuda di kandang, untung Toro, anakku sering membantuku membersihkannya. Belum kalau kotoran itu jatuh di jalan. Banyak cemoohan mulai dari yang halus sampai kasar keluar. Penumpang juga sering marah kalau dokarku tak bergerak cepat. Mereka suka membandingkan kecepatan dokar dengan angkutan umum. Orang di pasar juga begitu, mereka suka memuji angkutan umum karena tidak bikin kotor jalan, tidak mengeluarkan liur, bahan bakarnya pun juga gampang dibeli, tidak usah mencari di sawah.

Aku hanya meringis, yang penting Bentoku bisa beranak. Anak Bento, masih belum kuat untuk menarik dokar. Ia kuberi nama Juki. Sama dengan nama kakek, Marjuki. Itu bukan penghinaan bagi kakek. Aku tahu kakek sangat menyayangi kuda. Kuanggap itu sebagai penghormatan baginya.

“Pak, berapa harga naik dokar ke daerah ini kalo hanya satu orang?” tanya seorang lelaki lalu menyebutkan sebuah daerah. Aku menyebutkan sejumlah angka. Daerah itu tidak begitu jauh, hanya jalannya saja yang tidak rata. Penumpang itu menatap setengah curiga.

“Jangan-jangan nanti sudah sampai sana minta 2 kali lipatnya lagi,” katanya setengah mencemooh. Aku terdiam. Meski aku hanya seorang kusir, pantang bagiku menipu orang, apalagi penumpang.

“Tidak mungkin saya berbohong, kalau Anda tidak percaya silakan cari kusir lain,” kataku.

Orang itu manggut-manggut lalu, “Baiklah, saya percaya Anda.” Lalu orang itu menaiki dokarku.

Entah kenapa firasatku tidak enak dengan lelaki ini. Apa karena tatonya yang mengerikan?

“Ayo, cepat. Lambat banget sih!” lelaki itu memprotes.

“Namanya juga tenaga hewan, Pak! Oh, iya, Anda mau ke mana? Bawaannya banyak sekali?” aku mencoba ramah pada orang itu, tapi entah kenapa, aku menggigil ketakutan.

Orang itu memperhatikan ketakutanku, lalu dikeluarkannya pisau dan mencoba menusukkannya ke perutku. Untung, aku hanya tergores sedikit.

Bruk! Aku terjatuh dari dokar. Ditendang lelaki itu. Dari belakang, banyak orang berdatangan mencoba menolongku. Lalu muncul aparat yang mengejar lelaki itu menggunakan sepeda motor.

Belakangan kuketahui, lelaki itu adalah perampok. Bagiku, dia bahkan lebih kejam. Dia telah merampok Bento, kudaku, jiwaku. Aku tidak bisa menemui Bento, entah di mana dia sekarang. Aku tidak bisa mencarinya. Gara-gara jatuh dari dokar kemarin, aku jadi susah berjalan. Toro yang kusuruh mencari Bento tak jua berhasil menemuinya.

Hanya Juki kini yang tersisa. Warisan ayah dan kakek yang masih hidup. Rasanya sejak kepergian Bento, tubuh ini semakin melemah. Mungkin, tak lama lagi aku akan menyusul ayah dan kakek. Aku sudah berpesan pada Wati agar dikuburkan di samping ayah dan kakek. Dan dimana Toro? Sudahkah aku suruh ia agar merawat Juki dan meneruskan aku, ayah, dan kakek menjadi kusir? Rasanya kemarin aku sudah bilang padanya, yang ia tanggapi dengan kemarahan.

“Sekarang bukan jaman kuda, Pak! Sudah ada kereta api, sepeda, sepeda motor, mobil! Bahkan orang sudah berlomba menciptakan kendaraan yang terbang di udara dan melayang di air! Dan engkau, dengan sifat kolotmu, menyuruhku untuk menjadi kusir? Pikir, Pak! Kalau bukan karena aku menghormatimu, aku tidak akan mau membantumu membersihkan kandang dan bermain dengan kuda. Dan sekarang, engkau memaksaku meneruskan pekerjaanmu? Tidak, Pak! Dengan tegas aku menolaknya!”

Benarkah Toro mengatakan seperti itu? Rasanya tak mungkin. Sejak dulu, keluarga kami adalah keluarga kusir. Tidak bisakah Toro mengerti hal ini dan melanjutkan pekerjaan kami?

Tak lama kemudian, lelaki ketiga meninggal. Ia dimakamkan di sebelah lelaki pertama dan kedua.

***

Jawa, 1972

Lelaki Keempat

Toro meracik racun yang didapatnya di pasar. Ini racun yang sangat bahaya. Begitu kata penjualnya. Dicampurnya racun itu dengan rumput makanan Juki. Tak lama kemudian, muncul busa-busa dari mulut Juki. Selamat menyusul ayah, Juk! Maafkan aku, kau tahu bukan, aku terpaksa? Jika kau masih ada, aku akan menjadi kusir. Dan kau pun sama dengan ayah dan kakekmu, hanya akan menjadi kuda penarik dokar. Tentu kau tak mau, bukan? Memang, lebih baik begini. Oh, iya, sampaikan maafku pada Bento karena aku memang tidak mencarinya. Semoga kau cepat bertemu ayahmu itu, Juk! Tentunya di dunia sana, karena kalau ia masih di dunia ini, aku tak akan segan membereskannya. Apa pun yang menghalangiku untuk tidak menjadi kusir akan aku singkirkan. Bahkan, meski itu ayahku sendiri.

Toro membereskan tempat itu. Lalu, dengan ekspresi panik dia bergegas berteriak minta tolong. Namun, hatinya lega. Sangat lega.***

Uli Marta, siswa SMA Negeri 1 Magelang, Jawa Tengah.

Sumber: Kakilangit, sisipan majalah sastra Horison, Oktober 2010.

The Secret Weapon : Curiosity or Endurance

Hallstatt, Austria (picture was taken by me)

So this is how the story goes.

I’ve read it somewhere, a popular quote from Albert Einstein “I have no special talent. I am only passionately curious.”

This quote struck my mind when I read it for the first time. I never acknowledge myself as a passionately curious person. I tend to have several questions, but most of the time, I am satisfied when there is one closest answer that I can find, or sometimes I just leave some questions to remain unanswered, especially one that related with ambiguous or trivial subject.

Sometimes, I question myself, why am I not critical enough? Why is it easy for me to understand and not disagree with the reason of other’s idea (as long as it makes sense)?

Along the time, I understand myself as a fox type of person. So, according to philosopher Isaiah Berlin, inspired by Greek poet, repeated by Kahneman in his book, there are two types of people, hedgehog or fox.

The fox knows many things but the hedgehog knows one big thing. The hedgehog account for particular events within a coherent framework, and confident with his forecasts. The strength of the hedgehog is in his focus and central vision. The fox is complex thinker, he doesn’t believe that one big thing drives the march for history. The power of the fox is in his flexibility and openness to experience.

The hedgehog never wavers, never doubts. The fox is more cautious, more pragmatic, and more inclined to see complexity. Kahneman said that the hedgehogs make good tv programs, especially when they are on a different side, while foxes are less likely to be invited in tv debates.

That explanation gives me some idea why I see the world as a combination of several different entities and forces, the reason I can understand and not being “critical” enough when other give their statement because I believe that their point of view can be true as well.

However, knowing that I am a fox type person does not make me feel any better. Go back to Einstein’s quote, I am neither talented nor passionately curious, so what is the “special thing” that I have? This question always running back in my mind, especially being in the environment when everyone seems to have strong opinion and asking questions that do not align with their perspective.

Until yesterday, I found a trivial quiz from Adobe, asking “what is your secret weapon? Curiosity or endurance?”

and it just hit me like a lightning strike. I never consider my endurance as a secret weapon. I know that I am not a quitter, but I don’t recognise that along the process, I endure a lot of the things, the temptation to quit, the sleepless nights, the struggle to overcome barrier, the critics, rude comments or even insults. There are many times that I feel like I want to quit, but here I am, make an effort to continue anything that I’ve started.

It is funny how I always looking for things that I don’t have and never see the things that I actually do in my daily life.

As Kahneman said “We’re blind to our blindness. We have very little idea of how little we know. We’re not designed to know how little we know.”

As I embrace one more knowledge about myself, I realise there are tons of things that I don’t know about myself, too.

The Things That Matter

Have you ever felt that you just trying to complete your routine and not intentionally living your life?

Have you ever felt so upset for things that actually not having that much impact in your life?

Last year, I have an online mentoring session with a lady from Microsoft. So, I shared with her that I felt I was just doing routine activities, not really intentionally living my life. She shared with me her story that left me with a lasting impression.

She said that everyone has priorities or things that matter in their life. For her, it is her family. She said that it was unbelievable when she saw her calendar and realised that she couldn’t attend most of her family gathering because of other appointments. Since that moment, she plans her calendar and always make sure that her activities align with her priorities. She consciously makes plan for family lunch or dinner and ensures that she always be there.

“It is conflicting how we say that our priority is something, but actually we don’t really do thing that aligns with it.”

Seoul, Korea (picture was taken by me)

So, how many times do you think your family or friends matter, yet you rarely call them?

How many times do you say that constant learning process such as reading is important, but from 24 hours that you have, the time that you allocate for that activity is very less compared to watching movies or scrolling instagram feed?

How many times do you say that you want to maintain your health, yet you eat junk food and never exercise?

How many times do you get angry about some strangers discussing things on the internet?

So many conflicting things have been done that do not represent the things that you think are matter.

So, before we put (and waste our) effort on to something, ask yourself “Does it really matter? Is it my priority?”

When Opportunity Knocks

View from Kapuzinerberg, Salzburg. (Picture taken by me, Feb 2019)

The ancient wisdom always says “if opportunity doesn’t knock, build a door.” But, what if you have several doors and opportunity knocks on them? Which door that you should open?

That thing comes to my mind in this past few months, thinking what should I do next. It feels like what Nagasawa said to Watanabe in Norwegian Wood playing again in my mind ”When you’re surrounded by endless possibilities, one of the hardest things you can do is pass them up. How can you ignore it? You have a certain ability and the opportunity to use it: can you keep your mouth shut and let it pass?”

Knowing that you have the opportunity, knowing that you have the ability, can you let it pass?

As I exercise my options, try to come up with the best judgement that I can, I realise that one narrative exists, there, deep inside in my mind: is it align with what I want in the future? The best decision will be something that fulfil my happiness, something that wouldn’t cost my peace in the long term. So, some guideline that I use when deciding this matter :

  • Is it something that you like?

I forget where I read it, but there’s saying that you shouldn’t do something that you hate, otherwise you will be really good at it and there’s no turning back. (Except for some context, it might happen that you will love it once you master it)

  • How’s the package?

Understand the whole context of scenario is important. Instead of deciding whether you should do job in multinational company or startup, you should judge the company as a whole package. How’s the environment? How about the people? How’s the benefit of working there?

Another example will be for studying abroad. Instead of only state the fact that you want to study abroad, it will be better if you can decide the country as well, such as study in UK/US because you don’t need to study another foreign language or study music in Austria, because Mozart is from there.

  • How’s the money?

Money is important because it can give you freedom. I am not saying that you should be a top billionaire, but with enough money, we can perform daily (or extra) activities without worrying about basic necessities.

I remember few years ago, someone asked me what is money for me. That time, I answered money is like air. You should have enough of it, otherwise you can have problems.

  • Is it align with your priority?

We always have one (or some) important thing that we would like to prioritise. For some people, it might be family, others might be career or beauty. Whatever it is, deep down, you always know, you feel empty when it is not fulfilled.

As I evaluate my options, I imagine scenario for each opportunity, and I begin to understand which one that I should choose. It still hard to pass another opportunity, especially the one that you know you have ability to go with. However, let’s hope I make best judgement for now.